Yogyakarta - Professional Conference Organizer (PCO) sebenarnya sama saja dengan istilah kepanitiaan, event organizer, dan sebuah komite yang mengelola sebuah event/acara. Namun dikarenakan spesifikasinya seputar konferensi yang menjadi salahs satu bagian dari istilah MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) sehingga lebih popular dengan penyebutan PCO. Seperti halnya dalam pengelolaan sebuah pameran yang di provide keseluruhan oleh Professional Exhibition Organizer (PEO), dalam konferensi, meeting dan sejenisnya, PCO menghandle keseluruhan proses dari awal hingga akhir kegiatan. Bentuk-bentuk integrasi dari kegiatan konferensi sebuah perusahaan pada umunya menggabungkan dengan aktivitas city tour sebagai moment refreshing untuk seluruh peserta konferensi.
Sunday, 2 September 2012
Tuesday, 24 July 2012
Bekerja serasa bermain, travelling dibiayai perusahaan, Mau ?
Yogyakarta - Judul diatas mungkin terasa 'menohok' dalam artian positif, karena memang saya sendiri sudah merasakannya, mari kita kaji bersama-sama. Banyak di Indonesia ini perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan memiliki project sampai ke pelosok daerah se-antero nusantara. Sebut saja PERS, Biro Konsultan, Event Organizer, Advertising Agency, dan masih banyak lagi perusahaan yang memiliki sejumlah project hingga ke daerah-daerah terpencil baik dalam maupun luar negeri. Cerita yang akan dishare-kan bukan hal yang heboh dan Waoww, karena pasti masih banyak pengalaman pembaca blog ini yang lebih Waoww terkait judul diatas. Bila melihat tulisan sebelum ini, maka pembaca sudah tahu bahwa Event Organizer adalah basic yang dimiliki saya sejak lulus dari bangku kuliah dan masih minim pengalaman. Dengan disupport penuh oleh Dosen yang sudah dianggap seperti ibu sendiri, akhirnya dunia Event Organizer mencoba saya arungi dengan segala suka dukanya.
Benarkah kongkow-kongkow hanya buang-buang waktu ?
Yogyakarta - Wasting time!. Pernahkah membayangkan seandainya waktu yang anda miliki selama 24 jam setiap harinya dipotong menjadi 20, 15 atau 10 jam saja sehingga hidup menjadi terasa begitu singkat. Seandainyapun akan menjadi kenyataan, lalu apa yang akan anda lakukan demi menikmati hidup anda agar lebih efektif dan efisien. Padahal bila dilihat dengan lebih seksama waktu 24 jam sehari sangatlah kurang bagi orang-orang sibuk yang mencari kemapanan demi status sosial yang lebih baik. Sebaliknya, bagi orang-orang malas atau yang selalu menyalahkan kondisi dan lingkungan, waktu 24 jam terasa begitu lama, karena waktu yang dimanfaatkan tidaklah produktif. Sudahkah terbersit tanya dalam diri untuk menyiasatinya, seandainya salah satu gambaran keadaan diatas menimpa diri anda.
Tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang diri kita yang super rajin, giat bekerja, tekun belajar, dan sifat positif lainnya terkikis perlahan karena berbagai persoalan yang menimpa kita. Dari rutinitas kita yang super sibuk, pernahkah kejenuhan seolah mengurung dalam ruang yang gelap, hingga tersesat dalam melangkahkan kaki ke arah yang lebih terang. Bila memang kondisi fisik yang terlalu lelah, atau terlalu beratnya beban pikiran yang menimpa, ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk bersantai, rileks, melihat alam yang hijau mungkin, dan bisa juga menghabiskannya dengan bercengkerama bareng rekan-rekan sebaya atau anak muda lebih familiar dengan istilah 'Kongkow-kongkow'.
Istilah gaul yang terkesan membunuh waktu, tidak produktif, dan image-image negatif ini belum tentu seperti yang disangkakan sebelumnya. Bisa saja 'kongkow-kongkow' yang dikerjakan sekelompok orang tadi memnag untuk me-refresh otak mereka yang terlalu lelah dengan rutinitas kerja misalnya. Bagi anak muda 'kongkow-kongkow' dimanfaatkan sebagai ajang bercanda, sharing dan curcol-curcol yang itu bisa melupakan sementara permasalahan yang ada. Nongkrong bareng dan sejenisnya dilakukan atas dasar kebutuhan bukan keinginan, sama artinya ketika kita membutuhkan sumber penghasilan (pekerjaan) demi kelanjutan hidup kita.
Bercengkerama bersama teman dan sahabat memiliki output yang positif ketika dalam pembicaraan yang santai juga sekaligus menemukan solusi atas persoalan yang ada. Suasana yang dibangun secara akrab bisa dilakukan sembari ngopi, arisan untuk ibu-ibu, nongkrong di cafe ala anak muda, sambil maen catur bagi bapak-bapak, dan masih banyak lagi 'metode' kongkow-kongkow. Bila diibaratkan dengan meeting atau rapat anggota DPR, tidak salah bila kongkow-kongkow yang dilakukan juga memerlukan peran seorang moderator. Meski bukan moderator secara formal yang ditunjuk, hanya menghadirkan sosok moderator yang ada dalam diri salah seorang peserta nongkrong bareng tadi. Hal ini tidak lain dimaksudkan untuk menjaga topik obrolah yang terarah namun tetap santai, lebih bermanfaat lagi ketika bisa memberikan solusi secara tidak langsung dari obrolan yang dilakukan.
Dalam kaitannya dengan 'wasting time' atau tidaknya kongkow-kongkow tadi, salah satunya bisa dilihat dari maksud dan tujuan serta niatan untuk tetap menjaga hubungan baik pertemanan. Maka janganlah ragu untuk meluangkan waktu dalam seminggu untuk bisa berkumpul dengan saudara, teman, sahabat, keluarga dan rekan-rekan dekat demi menyegarkan 'ruangan' dalam otak kita yang terlanjur pengap karena rutinitas yang menjenuhkan. So, sudah mengagendakan akan kongkow-kongkow bareng kemana akhir minggu ini ? segera agendakan sebelum anda menyesal tidak pernah menikmati waktu bersama sahabat dan rekan-rekan anda. :)). (Rry)
- Dari pengalaman nongkrong di hang out place di Jogja.
- Dari pengalaman nongkrong di hang out place di Jogja.
Mendadak Jadi MC dan Moderator
Yogyakarta - Bersyukurlah setiap orang yang pernah terlibat dalam pekerjaan Event Organizer, Kepanitiaan, maupun Organisasi yang mengelola sebuah event, program atau acara. Dalam kepanitiaan terkecil di karang taruna misalnya, kegiatan 17 Agustus setiap tahunnya tidak akan berjalan tanpa kepanitiaan yang selalu giat bekerja demi suksesnya acara. Sebagai contoh lain Resepsi Pernikahan, yang merupakan hajatan sekali seumur hidup (kalo gak menjadikan nikah sbg hobby sih..!) didalamnya juga dibutuhkan kepanitiaan atau yang lebih dikenal dengan Wedding Organizer (WO). Lama waktu yang dipersiapkan mereka juga terbilang panjang, sampai 6 bulan bahkan 1 tahun sebelumnya.
WO professional biasanya juga membuka layanan konsultasi terkait persiapan Resepsi dan sederetan upacara sakral yang setiap adatnya berbeda-beda dan terkesan 'njelimet'. Sudah dapat dipastikan bahwa didalam sebuah kepanitiaan terdapat berbagai individu-individu dengan berbagai latar belakang yang dipadu-padankan dan bersinergi membentuk sebuah team. Adapun kesolidan team sangat menentukan hasil output event yang digarap. Pekerjaan dalam Event Organizer bisa dibilang seabrek-abrek, dan bila diuraikan agar hasil semakin sempurna, bisa lebih ribet lagi. Terlepas dari berbagai posisi dalam team yang diisi setiap individu, satu yang akan disoroti adalah peranan MC (master of ceremony), dalam acara formal ada yang menyebutnya 'Moderator'.
Kembali dalam cerita perjalanan saya, meskipun tidak punya pengalaman yang mumpuni di ranah MC, tantangan sebagai MC menghampiri saat harus membawakan acara talkshow jurnalistik dalam Pameran Buku di Purwokerto. Hanya bermodalkan kebiasaan 'ngomong' ceplas ceplos didepan teman-teman sekampung saat rapat Agustusan di kampung, akhirnya mau gak mau harus unjuk gigi juga. Meski bila dirunut ke dalam JobDesk, seorang koordinator acara yang dipercayakan sm saya berbeda dengan MC. Pekerjaan teknis dalam MC tidak dimiliki oleh Koordinator Acara demikian sebaliknya. Terlepas dari JobDesk yang saling bertabrakan, merangkap menjadi MC adalah sebuah tantangan baru karena keterbatasan SDM dalam kepanitiaan yang bisa membawakan acara. rasa 'Grogi' bercampur aduk dengan keringat dingin yang mengucur deras 'naik turun' (kaya air mancur) seolah berkolaborasi dengan degup jantung yang terus terpacu.
Kembali dalam cerita perjalanan saya, meskipun tidak punya pengalaman yang mumpuni di ranah MC, tantangan sebagai MC menghampiri saat harus membawakan acara talkshow jurnalistik dalam Pameran Buku di Purwokerto. Hanya bermodalkan kebiasaan 'ngomong' ceplas ceplos didepan teman-teman sekampung saat rapat Agustusan di kampung, akhirnya mau gak mau harus unjuk gigi juga. Meski bila dirunut ke dalam JobDesk, seorang koordinator acara yang dipercayakan sm saya berbeda dengan MC. Pekerjaan teknis dalam MC tidak dimiliki oleh Koordinator Acara demikian sebaliknya. Terlepas dari JobDesk yang saling bertabrakan, merangkap menjadi MC adalah sebuah tantangan baru karena keterbatasan SDM dalam kepanitiaan yang bisa membawakan acara. rasa 'Grogi' bercampur aduk dengan keringat dingin yang mengucur deras 'naik turun' (kaya air mancur) seolah berkolaborasi dengan degup jantung yang terus terpacu.
Satu hikmah yang bisa ditarik dari kesimpulan sederhana diatas adalah setiap individu mmeiliki kesempatan yang sama dan terbuka untuk lebih mengoptimalkan potensi dirinya. Bakat yang terpendam, 'soft skill' yang dimiliki bisa digali lebih dalam sehingga potensi yang dimiliki bila semakin diasah kian menjadi professional. Karena pada dasarnya latar belakang pendidikan juga tidak selalu menentukan bidang pekerjaan yang diperoleh, kebanyakan justru melenceng jauh dari konsentrasi pendidikan yang diambil saat kuliah dulu. Bila ada yang pernah merasakan bisa angkat kaki (becanda-mode on). Terlepas dari bisa tidaknya sebuah pekerjaan baru itu kita taklukkan adalah urusan belakang, yang harus dilakukan 'do it now!'. Sesimple itu dan semudah yang diucapkan, meski pada prakteknya sulit, namun sesulit apapun selalu ada cara untuk menaklukannya.
![]() |
| MC Parade Band di Pameran Buku Jepara - Jawa Tengah |
| MC Talkshow & Bedah Buku Motivasi di Malang - Jawa Timur |
| MC di TB. Gramedia Surabaya - Jawa Timur |
| MC di Acara Pertamina Book Fair Cilacap - Jawa Tengah |
| MC di Grebeg Buku Jogja |
![]() |
| Bareng Melanie Subono di Pameran Buku Jombang - Jawa Timur |
![]() |
| Wisata Buku di Pameran Buku Ponorogo - Jawa Timur |
![]() |
| MC di Pesta Buku Anak Malang - Jawa Timur |
![]() |
| MC iseng-iseng di Grebeg Buku Jogja |
Sesaat terkadang muncul rasa ketagihan sebagai MC, ada juga peresaan ingin diperhatikan, jelas dong kan si MC selalu berdiri didepan bersama nara sumber dan sebagai pusat perhatian. Pada kesempatan yang lain juga sekalian curi-curi pandang, ibarat merpati yang mencari pasangannya, halah!. Point akhir yang akan disampaikan disini, langkah otodidak dalam melakukan pekerjaan atau profesi baru yang menantang, apapun jenis pekerjaannya, cobalah untuk 'break' dari rutinitas yang ada dan carilah sumber referensi yang membahas pekerjaan tadi, niscaya akan semakin tertantang berbagai kisi-kisis persoalan yang dibahas dialamya, bisa berupa Buku, Internet, dan sebagainya. So, buatlah anda sebagai pribadi yang multitalenta, sehingga pekerjaan yang akan memilih anda bukan sebaliknya. selamat berotodidak ria. :))
Subscribe to:
Posts (Atom)








